ss_blog_claim=9f25a6102031c1326c60e4c5eaf70532

25.5.08

0

This week quotes.

Chastity is curable if detected early

The greatest reward for doing is the opportunity to do more – Jonas Salk.

The successful man will profit from mistakes and try again in a different way – Dale Carnegie.

We are confronted with insurmountable opportunities – Walt Kelly

Our attitude toward things is likely to be more important than the things themselves - A. W. Tozer.

What lies behind us and what lies before us are tinny matters compared to what lies within us – Walt Emerson.

Whether you think you can or you can’t – you’re right – Henry Ford.

Where there is no hope in the future, there is no power in the present – John Maxwell

True independence comes when we cease to force and start to flow.

Hard work pays off in the future, laziness pays off now.

Why do bankruptcy lawyers expect to be paid?

It takes two to make peace.

Wear short sleeves! Support your right to bare arms!

Love maybe blind, but marriage is a real eye-opener.

Love is an adventure to be lived, not a problem to be solved.

In the confrontation between the river and the rock, the river always wins – not through strength but by perseverance.

The secret of a happy life is to do work you enjoy and then you will be to busy to know whether you are happy or not.

Catch a passion for helping others, and a richer life will come back to you.

23.5.08

0

Aku, kamu, kita, semua berharap!

Menikmati dan bermesraan dengan sebuah buku tentang bagaimana para sahabat menerjemahkan arti ‘that’s what friends are for’ sangat bisa dirasakan dari buku Onze Ong – Onghokham dalam Kenangan.

Sebuah kumpulan kesan terhadap seorang Onghokham yang bisa bermetamorfosis sebagai guru, boss, teman, ilmuwan, pribadi yang eksentrik, pemberontak, ‘a professor in a bus’ dan lain sebagainya yang ditulis oleh para sahabatnya dan para ilmuwan lainnya yang mengenal secara khusus seorang Onghokham, peranakan Cina yang hidup sebagai cina kebelanda – belandaan, yang kemudian jatuh cinta dan terpesona dengan tradisi, budaya serta sejarah Jawa, dan meninggal sebagai seorang Tionghoa, seorang profesor historian, penggila pesta dan seorang pakar yang jadi panutan untuk menemukan tempat dan restoran enak dan bagaimana mengolah serta menyajikan makanan yang bercita – rasa.

Kumpulan kesan – kesan ini sangat menyenangkan untuk dibaca dan memperkaya pemahaman pembacanya karena buku ini diterbitkan selang beberapa waktu setelah orang yang jadi pusat pembicaraan ini berpulang ke Tuhannya yang entah siapa dan entah yang mana pada tahun 2007.

Yang pasti dengan segala betuk dan aktifitas yang dia sudah lakukan semasa hidup dan dengan sepenuh hati menikmati hidupnya serta tidak lupa dan tidak pelit untuk berbagi dengan orang lain, membuat seorang Onghokham menempatkan dirinya bagian dari sejarah negri ini sebagai salah satu Cina keturunan atau Cina Baba yang ‘berbeda’.

Salah satu kesan yang menggelitik saya adalah yang ditulis oleh Christianto Wibisono pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia yang sekarang menetap di Washington DC (saya enggak tahu kenapa dia lebih memilih tinggal disana, apa karena sudah tidak sayang lagi sama Indonesia) dimana dia menuliskan sebuah paradigma dalam dunia bisnis dengan sebuah ungkapan bahwa Generasi Pendiri membentuk dinasti atau imperium bisnis, generasi anak sekedar melanjutkan dan generasi ketiga malah membangkrutkan berlaku universal. (kok mirip sama yang terjadi di negri ini ya? Generasi pertama – Orde Lama me-Merdekakan, Generasi berikutnya Orde Baru sekedar melajutkan dan Generasi Ketiga – Generasi Reformasi membangkrutkan he he he).

Masih dalam kesan – kesan yang ditulis oleh Christianto Wibisono dibuku ini, bahwa ‘manusia modern mestinya mengalami peningkatan kualitas moral, mental, spiritual dan etikanya setara dengan teori evolusi bagi kelompok ateis. Kalau secara biologis manusia merupakan “hewan” yang nyaris sempurna dibanding hewan yang be-revolusi menurut Darwin dari amuba, amfibia, reptilia sampai mamalia, maka struktur dan fungsi masyarakatpun harus mengalami transformasi dan mutasi kualitatif dari struktur Feodal, hukum rimba menjadi masyarakat meritokratis yang menjujung tinggi supremasi hukum.

Amuba adalah binatang ber-sel satu yang makan, minum, berak, bercinta, dan juga beranak dari sel yang itu juga (he he jadi ingat sama politisi dinegri ini; makan, minum, meludah, berjanji, menyumpah, dan berbohong juga dari mulut yang sama) serta satu lagi amuba itu adalah binatang yang tidak jelas status biologisnya, sekarang juga banyak amuba baru di negri ini yang tidak jelas statusnya alias plin – plan.

Dibagian akhir dari tulisan Christian ini, dia menulis bahwa Indonesia sedang beralih dari dwifungsi ABRI menuju dwifungsi Pengusaha yang juga sekaligus menjadi penguasa, yang sebenarnya tidak kalah bahayanya dari yang pertama sedang suasana global juga mengandung ancaman dwifungsi ulama-penguasa, menjadi negara agama, teokrasi, khilafah, syari’ah yang juga melahirkan hegemoni tiranik penguasa uber alles. Hanya sistem negara hukum modern, rechstaat diatas machstaat, penegak supremasi hukum bisa membawa Indonesia kenegara kesejahteraan. Jika tidak, maka Indonesia seperti telaah Ong Hok Ham yang mendalam tentang masa lalu Indonesia, akan mengalami stagnasi dan gagal melakukan transformasi menjadi masyarakat modern yang solid dengan nilai luhur yang dijamin bukan oleh manusia, melainkan oleh institusi sosial yang tangguh dan supremasi hukum yang konkret. Saya juga berharap!!

21.5.08

4

What is the magic word for Indonesian to survive?

Aside of many happening in Indonesia such as Natural Disasters, Flood, the rising up of food material price, epidemic disease also thousands of social illness including chronic corruption, the latest negative news brought in by the government and as told by Indonesian president through the Minister of Economic Finance and Industrial coordinator that Indonesian Government has to (again) rise up the selling price of petrol adjusted to the global market and to help the continuance of National Income and expenses budget.

As an ordinary Indonesian there is nothing really I can do to avoid this situation which in the short moment will also drag up all of the living cost and surely will affected most of Indonesian with average income. This will not affected the rich and establish people as the price of the petrol are way below their income and they still have advantage as the receiver of the petrol subsidy.

Nothing new actually if we as Indonesian really look back, there were several time the price of petrol has been adjusted to the new price and make all of Indonesians has to take a deep breath and review their agenda.

For me instead of mourning about the situation, the keyword I pick up is efficiency, and I am quiet sure that soon everyone has to do the same action to survive, find more opportunity to gain more income and be more and more creative to sniff even to the smallest possibility. For the upcoming months perhaps many Indonesians has to be more careful and effective using fossil fuel for example avoiding doing unnecessary traveling.

With simple math actually Indonesians still able to calculate what they can do, I still remember about 2 – 3 years a go when lot’s of people angry about the upgrade of petrol price, I just say that there is nothing you can do, even you’re scream to the dead, nothing is going to change, what we have to do is adjust our life style and the way we use our potency to maintain our living standard.

Use your energy to think how to overcome the obstacles and not wasting it by spreading and shouting angry words which will contra-productive and make yourself become a negative person! Be positive and more constructive in everything!! Efficient, punctual, precise and on time!!

If you spend Rp. 50,000 petrol a day, then you must try to make double or triple income from what you spent for the petrol, just that simple!!

Another way is become more active and smart blogger!! I believe if you’re doing the right thing in blogging then the unlimited side income could be yours! Don’t be afraid, let’s go and keep stepping forward, never retreat!! Let’s prepare everyone, have a nice day.

15.5.08

15

Tuhanku, Sampeyan beragama apa?

Akhir – akhir ini seringkali saya coba untuk memahami dan merenung tentang apa yang sesungguhnya sedang terjadi dan dialami oleh sebagian anak – anak bangsa ini, disatu sisi ada yang bersedih karena anak mereka tidak lagi bisa menikmati susu, ada sebagian orang tua yang masih berduka karena kehilangan anggota keluarga mereka yang direnggut dengan paksa oleh sebuah wabah yang belum bisa diatasi oleh para pemikir negri ini.

Tapi ditempat lain, masih banyak pesta dan tawa serta tidak terlihat sama sekali bahwa mereka cuma sejengkal dari orang lain yang sangat menderita, sungguh memang negri ini sudah bermuka seribu! Dan semakin banyak orang yang mati rasa; tidak lagi punya rasa bersalah, rasa malu, rasa sungkan dan entah rasa apalagi…

Seolah – olah hidup ini cuma menjadi sepenggal cerita yang harus dijalani dan kalau sudah bosan dan mau berhenti boleh saja bunih diri, wajah – wajah yang teduh dan menentramkan semakin susah ditemukan tidak juga pada orang – orang yang dulu dianggap sebagai peneduh dan penjaga nurani dan jiwa, ya … mereka sudah terpesona dengan hiruk pikuk dan kemilau kemewahan dan kekuasaan sehingga mereka lupa dan dengan sadar berpihak kepada kekuasaan dengan mengabaikan apa yang seharusnya lebih bernilai untuk mereka lakukan, menjaga keimanan umat, menjaga ketentraman batin, dan senantiasa mengingatkan bahwa kita masih bisa berharap kepadaNYA…

Perpecahan dan keretakan diantara anak bangsa yang notabene sebangsa, seagama semakin nyata bahkan dengan tidak malu – malu mereka menunjuk dan berteriak dengan lantang bahwa orang lain adalah penghianat, kafir, tidak layak hidup dan segala sumpah serapah lainnya, apakah mereka memang sudah memiliki semacam ‘free pass’ untuk masuk surga sehingga mereka merasa punya ‘privilege’ untuk menghakimi orang lain yang mempunyai keyakinan lain? Apakah mereka sangat yakin bahwa Tuhan yang sebenarnya beragama sama dengan mereka? Apakah Tuhan mereka sangat bangga dan terbahak – bahak manakala melihat mereka memuja dan menyebutNYA dengan muka sangar, mata merah, tangan terkepal dan dada membusung penuh amarah dan dendam sementara tubuh mereka berkeringat menyebarkan bau busuk cuma karena membela dan atas nama solidaritas golongan dan egosentris serta merasa paling benar!

Sejujurnya saya yang merasa sangat kotor dihadapanNYA, merasa bingung dan terkadang saya merasa bahwa Tuhan yang saya ingat adalah Tuhan yang Kalem, Lembeng, Rendah Hati, Tidak Suka Marah, dan Tuhan saya tidak suka disuap, disogok, dijilat, ataupun dielu – elukan dengan sorakan semu, tidak! tetapi Tuhan yang saya rasa saya kenal adalah yang mau mendengar apabila saya menyampaikan kesedihan dan keluhan saya dengan muka tertunduk dan menyampaikan dengan sepenuh hati serta memohon dan berterima kasih atas apapun yang DIA sudah berikan, saya tidak akan pernah mencoba untuk merayuNYA dengan berbuat kejahatan mengatasnamakan DIA, tidak akan berteriak – teriak ditengah jalan serta mengganggu lalu lintas supaya semua orang tahu seolah – olah saya yang paling benar, tidak akan seperti itu! Karena sayapun cuma salah satu ciptaaNYA dan sama sekali tidak berhak untuk mendikte DIA apalagi mengadili ciptaanNYA yang lain.

Sudah saatnya kita untuk merasa malu kalau kita menyamakan TUHAN kita dengan sifat kemanusaiaan yang ada disekitar kita, terlebih lagi kalau kita merasa kita akan mampu untuk membodohi Tuhan dengan sikap brangasan dan nafsu kebinatangan tapi mengatasnamakan Dia dan bermaksud menyenangkan Dia, sungguh sangat keliru, saatnya kita untuk berbenah, atau mungkin memang Tuhan sedang sakit hati sama kita, coba nanti aku tanyakan...