
Menikmati dan bermesraan dengan sebuah buku tentang bagaimana para sahabat menerjemahkan arti ‘that’s what friends are for’ sangat bisa dirasakan dari buku
Onze Ong – Onghokham dalam Kenangan. Sebuah kumpulan kesan terhadap seorang Onghokham yang bisa bermetamorfosis sebagai guru, boss, teman, ilmuwan, pribadi yang eksentrik, pemberontak, ‘a professor in a bus’ dan lain sebagainya yang ditulis oleh para sahabatnya dan para ilmuwan lainnya yang mengenal secara khusus seorang Onghokham, peranakan Cina yang hidup sebagai cina kebelanda – belandaan, yang kemudian jatuh cinta dan terpesona dengan tradisi, budaya serta sejarah Jawa, dan meninggal sebagai seorang Tionghoa, seorang profesor historian, penggila pesta dan seorang pakar yang jadi panutan untuk menemukan tempat dan restoran enak dan bagaimana mengolah serta menyajikan makanan yang bercita – rasa.
Kumpulan kesan – kesan ini sangat menyenangkan untuk dibaca dan memperkaya pemahaman pembacanya karena buku ini diterbitkan selang beberapa waktu setelah orang yang jadi pusat pembicaraan ini berpulang ke Tuhannya yang entah siapa dan entah yang mana pada tahun 2007.
Yang pasti dengan segala betuk dan aktifitas yang dia sudah lakukan semasa hidup dan dengan sepenuh hati menikmati hidupnya serta tidak lupa dan tidak pelit untuk berbagi dengan orang lain, membuat seorang Onghokham menempatkan dirinya bagian dari sejarah negri ini sebagai salah satu Cina keturunan atau Cina Baba yang ‘berbeda’.
Salah satu kesan yang menggelitik saya adalah yang ditulis oleh Christianto Wibisono pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia yang sekarang menetap di Washington DC (saya enggak tahu kenapa dia lebih memilih tinggal disana, apa karena sudah tidak sayang lagi sama Indonesia) dimana dia menuliskan sebuah paradigma dalam dunia bisnis dengan sebuah ungkapan bahwa Generasi Pendiri membentuk dinasti atau imperium bisnis, generasi anak sekedar melanjutkan dan generasi ketiga malah membangkrutkan berlaku universal. (kok mirip sama yang terjadi di negri ini ya? Generasi pertama – Orde Lama me-Merdekakan, Generasi berikutnya Orde Baru sekedar melajutkan dan Generasi Ketiga – Generasi Reformasi membangkrutkan he he he).
Masih dalam kesan – kesan yang ditulis oleh Christianto Wibisono dibuku ini, bahwa ‘manusia modern mestinya mengalami peningkatan kualitas moral, mental, spiritual dan etikanya setara dengan teori evolusi bagi kelompok ateis. Kalau secara biologis manusia merupakan “hewan” yang nyaris sempurna dibanding hewan yang be-revolusi menurut Darwin dari amuba, amfibia, reptilia sampai mamalia, maka struktur dan fungsi masyarakatpun harus mengalami transformasi dan mutasi kualitatif dari struktur Feodal, hukum rimba menjadi masyarakat meritokratis yang menjujung tinggi supremasi hukum.
Amuba adalah binatang ber-sel satu yang makan, minum, berak, bercinta, dan juga beranak dari sel yang itu juga (he he jadi ingat sama politisi dinegri ini; makan, minum, meludah, berjanji, menyumpah, dan berbohong juga dari mulut yang sama) serta satu lagi amuba itu adalah binatang yang tidak jelas status biologisnya, sekarang juga banyak amuba baru di negri ini yang tidak jelas statusnya alias plin – plan.
Dibagian akhir dari tulisan Christian ini, dia menulis bahwa Indonesia sedang beralih dari dwifungsi ABRI menuju dwifungsi Pengusaha yang juga sekaligus menjadi penguasa, yang sebenarnya tidak kalah bahayanya dari yang pertama sedang suasana global juga mengandung ancaman dwifungsi ulama-penguasa, menjadi negara agama, teokrasi, khilafah, syari’ah yang juga melahirkan hegemoni tiranik penguasa uber alles. Hanya sistem negara hukum modern, rechstaat diatas machstaat, penegak supremasi hukum bisa membawa Indonesia kenegara kesejahteraan. Jika tidak, maka Indonesia seperti telaah Ong Hok Ham yang mendalam tentang masa lalu Indonesia, akan mengalami stagnasi dan gagal melakukan transformasi menjadi masyarakat modern yang solid dengan nilai luhur yang dijamin bukan oleh manusia, melainkan oleh institusi sosial yang tangguh dan supremasi hukum yang konkret. Saya juga berharap!!